Senin, 27 April 2015

Macam-macam Motif (Jenis Motif)

Ada beberapa ahli yang menggolongkan jenis motif  itu menjadi dua yaitu: motif  jasmaniah dan motif  rohaniah. Yang termasuk motif  jasmaniah misalnya : refleks, instink otomatis dan nafsu. Sedangkan yang termasuk motif  rohaniah yaitu kemauan yang pada setiap diri manusia terbentuk melalui empat momen, yakni : 1. Momen timbulnya alasan, 2. Momen pilih, yaitu keadaan dimana ada alternatif-alternatif yang mengakibatkan persaingan -persaingan antar alasan -alasan itu, 3. Momen putusan, yaitu momen perjuangan alasan-alasan berakhir dengan dipilihnya salah satu alternatif dan ini menjadi putusan yang menentukan aktivitas yang akan dilakukan, 4. Momen terbentuknya kemauan, yaitu dengan diambilnya keputusan, maka timbullah didalam diri manusia dorongan untuk bertindak dan melakukan putusan tersebut.

Ada dua jenis motif  yaitu : Pertama, motif  instrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsi, tidak perlu dirangsang dari luar karena dari dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Kedua, motif  ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya perangsang dari luar, seperti misalnya seorang siswa diberi tahu akan ada ujian sekolah sehingga muncul dari dalam dirinya suatu tanggung jawab untuk belajar dengan giat agar mendaapt nilai baik. 

Kemauan merupakan salah satu fungsi terhadap kejiwaaan manusia, dapat diartikan sebagai aktifitas psikis yang mengandung usaha aktif dan berhubungan dengan pelaksanaan suatu tujuan. Proses kemauan untuk sampai pada tindakan melalui beberapa tingkat yaitu ; a. motif (alasan, dasar, pendorong), b. Perjuangan motif sebelum mengambil keputusan, c. keputusan, yaitu mengadakan pemilihan antara motif-motif untuk mengambil keputusan, d. Tindakan dari kemauan yang sesuai dengan keputusan yang diambil. 
Motif  instrinsik adalah proses terjadinya tindakan karena inisiatif dari dalam individu (faktor dalam) yang kemudian berdasarkan inisiatif  tersebut mencari obyek yang relevan (faktor luar). Sedangkan motif  ekstrinsik adalah proses terjadinya tindakan karena rangsang dari luar (faktor luar ) yang kemudian rangsang tersebut menggerakkan individu untuk berbuat (faktor dalam ). 
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa ada beberapa macaam motif  yaitu motif  jasmaniah, motif  rohaniah, motif  instrinsik dan motif  ekstrinsik. Motif  rohaniah berhubungan dengan kemauan yang terbentuk melalui empat momen yaitu ; momen timbulnya alasan, momen pilih, momen putusan dan kemudian momen terbentuknya kemauan. Kemauan merupakan perbuatan psikis yang penting sebagai penentu berhasilm atau tidaknya individu dalam mencapai  tujuan. Motif  jasmaniah berhubungan dengan kemampuan individu dalam melakukan sesuatu sehingga mencapai tujuan atau hasil. 

Sedangkan motif instrinsik adalah motif-motif yang aktif tanpa dirangsang dari luar karena dari dalam individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu dan yang muncul dari kesadaran diri sendiri dengan tujuan secara esensial. Motif  ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif karena adanya tanggung jawab dari dalam diri individu. Jadi, dengan demikian individu yang mempunyai motif  tinggi adalah individu yang memiliki kesadaran dari dalam diri sendiri, memiliki kemauan, memiliki rasa tanggung jawab dan ada kemampuan untuk melakukan sesuatu sehingga mencapai tujuan atau hasil.
Orang tua yang berperan sebagai motivator hendaknya terlebih dulu harus memiliki motif  atau termotif untuk memberikan arahan yang benar kepada anak yaitu melalui pendidikan agama pada anak, baik ndalam lingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakat. Keluarga mendukung tempat terpenting bagi terbentuknya pribadi anak secara keseluruhan yang akan dibawa sepanjang hidupnya dan keluarga merupakan pembentuk watak, pemberi dasar rasa keagamaan, penanaman sifat, kebiasaan, hobi, cita-cita dan sebagainya  

Pola asuh pada prinsipnya merupakan parental control, yakni bagaimana orang tua mengontrol, membimbing, dan mendampingi anak-anaknya untuk melaksanakan tugas-tugas perkembangannnya menuju pada proses pendewasaan.   Sedangkan, Kohn mengatakan bahwa pola asuh merupakan cara orang tua berinteraksi dengan anak yang meliputi aturan, hadiah, hukuman, pemberian perhatian, serta tanggapan orang tua terhadap setiap perilakuk anak.
Pola asuh yang ideal adalah bagaimana orang tua bisa mempunyai sifat empati terhadap semua kondisi anak dan mencintai anaknya dengan setulus hati. Sedangkan, karen menyatakan bahwa kualitas pola asuh yang baik adalah kemampuan orang tua untuk memonitor segala aktivitas anak, sehingga ketika anak dalam keadaan terpuruk, orang tua mampu memberikan dukungan dan memerlakukan anak dengan baik sesuai dengan kondisi anaknya. 

Pengasuhan orang tua yang bersifat interaktif antara orang tua dan remaja dengan menawarkan konsep pengasuhan, mendorong, menghambat, dan membiarkan”.
Pola asuh merupakan “Pola interaksi antara orang tua da anak. Lebih jelasnya, yaitu bagaimana sikap atau perilaku orang tua saat berinteraksi dengan anak. Termasuk caranya menerapkan aturan, mengajarkan nilai atau norma, memberikan perhatian dan kasih sayang., serta menunjukkan sikap dan perilaku yang baik, sehingga dijadikan contau atau panutan bagi anaknya”.
Sedangkan, tujuan pola asuh menyatakan bahwa : untuk mendidik anak agar dapat menyesuaikan diri terhadap lingkunagn sosialnya atau supaya dapat diterima oleh masyarakat. Pengasuhan orang tua berfungsi untuk memberikan kelekatan dan ikatan emosional, atau kasih sayang antara orang tua dan anaknya, juga adanya penerimaan dan tuntunan dan orang tua dan melihat bagaimana orang tua menerapkan disiplin. Dalam konteks kultur islam indonesia maka pengasuhan orang tua berdampak terhadap sosialisasi anak-anak didalam struktur keluarga yang bervariasi dan berdasarkan nilai-nilai Kultur Islam Indonesia.
Lingkungan keluarga adalah lingkungan pendidikan yang pertama karena dalam keluarga inilah anak pertama kali mendapatkan didikan dan bimbingan sehingga pendidikan yang paling banyak dsiterima oleh anak adalah dalam keluaga. Motif  orang tua diperlukan dalam memberikan pendidikan agama pada anak karena melihat peranan orang tua yang sangat penting dan dapat mempengaruhi perkembangan kepribadian serta menggerakkan perilaku anak pada kehidupanya. 

Motif orang tua dalam memberikan pendidikan agama pada anak dapat dilihat dari keamauan orang tua, dimana kemauan tersebut terbentuk melalui empat momen yaitu;
a. momen timbulnya alasan adalah alasan orang tua memberikan pendidikan agama pada anak, b. momen pilihan yaitu orang tua menentukan pilihan mengenai alasan memberikan pendidikan agama pada anak, c. momen putusan yaitu keputusan orang tua melakukan pilihanya, d. momen terbentuknya kemauan yaitu timbulnya dorongan dari dalam diri orang tua untuk bertindak dan melaksanakan putusan itu   
Jika seorang anak berada di lingkungan rumah (keluarga) yang istiqamah (seluruh anggotanya berpegang teguh pada agama mereka dan akhlak mulia, kedua ibu bapaknya berkomitmen kepada ilmu, akhlak dan adab), niscaya ia tumbuh dan berkembang menjadi shalih dan istiqamah pula. Hal sebaliknya juga dapat terjadi.  Bagi para orang tua dalam hal mendidik anak-anak mereka untuk beribadah, agar kelak mereka menjadi self disciplined dan merasa ringan menunaikan ibadah. 

Pendidikan anak-anak merupakan kewajiban yang sulit dan berat, demikian pula mengajak mereka kepada kebaikan, dan mengarahkan mereka kepada amal shalih yang berguna dalam berbagai bidang kehidupan. Hanya orang-orang yang Allah berikan taufiq dan inayah atasnya sajalah yang dapat mengembannya dengan baik. 
Tanggung jawab para bapak terhadap anak-anak mereka besar, tetapi tanggung jawab para ibu lebih lebih berat dan penting. Sungguh indah kata mutiara Ahmad Syauqi: “Ibu adalah sekolah (utama). Jika engkau persiapkan dia dengan sungguh-sungguh, engkau telah mem-persiapkan (lahirnya) sebuah generasi bangsa yang harum namanya.”
Maka, jika ayah dan ibu bertolong-menolong dan serius dalam mendidik, mengasuh, dan mencurahkan perhatian, niscaya baiklah kehidupan anak-anak mereka, dan luruslah akhlak mereka. Kedua ibu bapak hidup berbahagia di dunia karena anak-anak berbakti, dan di akhirat dibalas dengan ganjaran yang lebih baik olehTuhan seru sekalian alam.

Motif orang tua juga dipengaruhi oleh sifat mental dan rasa tanggung jawab yang berarti memelihara dengan baik segala sesuatu sekeliling kita, siap sedia melakukan segala sesuatu yang perlu dilakukan. Orang tua dapat mengatur dan menyediakan situasi-situasi baik dalam lingkungan keluaga maupun lingkungan sekolah yang memungkinkan timbulnya persaingan atau kompetisi yang sehat antar anak-anak, misalnya lomba baca tulis Al-Qur’an. Selanjutnya Simorangkir menyatakan bahwa terdapat beberapa faktor yang menjadi motif  orang tua dalam menyekolahkan anaknya yaitu :
a.    Keadaan  ekonomi yang menunjang untuk menyekolahkan anaknya
b.    Tanggungjawab orang tua untuk menyekolahkan anaknya
c.    Keadaan lingkungan menuntut untuk menyekolahkan anaknya

Jika orang tua menyadari betul, yang mana kesadaran ini muncul dari dalam dirinya bahwa pendidikan agama sangat penting bagi anak dan juga menyadari akan perannya, maka memberikan pendidikan agama pada anak akan menjadi pilihan orang tua dan dengan demikian timbul dorongan untuk bertindak sebaik-baiknya. Dorongan yang muncul dari dalam dirimu  orang tua di akibatkan oleh adanya kebutuhan-kebutuhan untuk membentuk anak sesuai dengan ajaran agama. Sehingga dengan adanya dorongan itu menimbulkan suatu perilaku karena tanpa adanya dorongan tadi tidak akan ada suatu kekuatan yang mengarah kepada suatu mekanisme timbulnya perilaku.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa orang tua adalah sebagai motivator untuk memberikan arahan yang benar kepada anak sesuai dengan iman atau kepercayaan orang tua dan motif  orang tua ini dapat dilihat dari adanya kesadaran diri, adanya kemauan, rasa tanggung jawab dan kemampuan orang tua untuk memberikan pendidikan agama pada anak. Motif  orang tua muncul karena adanya dorongan (drive) untuk timbulnya suatu perilaku, yaitu dimulai dengan adanya kebutuhan-kebutuhan (needs). Kebutuhan-kebutuhan itu yang akan menimbulkan dorongan yang nantinya akan bermuara pada timbulnya suatu perilaku untuk mencaapi tujuan, yaitu tingkah laku orang tua dalam memberikan pendidikan agama pada anak.


Pustaka.

Ahmadi, A, 2002, Psikologi Sosial, Edisi Revisi, Penerbit Rineka Cipta. Jakarta
Sumadi Suryabrata. (2000). Pengembangan alat ukur psikologi. Edisi 1. Yogyakarta.. Penerbit Andi Yogyakarta
Handoko T. Hani (2002), Manajemen; Edisi Kedua, Cetakan Ketigabelas. Yogyakarta
Arifin, Abdulrachman. (2003). Human relation untuk management (Teori dan. Praktek). Jakarta: Lembaga Administrasi Negara
Handoko T. Hani (2002), Manajemen; Edisi Kedua, Cetakan Ketigabelas. Yogyakarta : BPFE
Casmini. 2007. Emotional Parenting. Yogyakarta : Pilar Media.
Facebook Twitter Google+

Boleh bebas asal jangan terlalu

Back To Top