Jumat, 24 April 2015

Kinerja Guru dari perspektif Latar belakang Guru

Rachman Natawijaya (2006 : 22) secara khusus mendefinisikan kinerja guru sebagai seperangkat perilaku nyata yang ditunjukkan guru pada waktu dia memberikan pembelajaran kepada siswa.
Kinerja guru bila mengacu pada pengertian Mangkunegara  bahwa tugas yang dihadapi oleh seorang guru meliputi : membuat program pengajaran, memilih metode dan media yang sesuai untuk penyampaian, melakukan evaluasi, dan melakukan tindak lanjut dengan pengayaan dan remedial.
Menurut Undang- Undang RI nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pada bab 1 pasal 1 disebutkan bahwa :
“Guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.”

Selanjutnya pada Undang-Undang tersebut dijelaskan bahwa : Professional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. 
Guru merupakan ujung tombak pelaksana pendidikan. Keberhasilan guru dalam melaksanakan tugasnya merupakan cerminan dari kinerja guru, dan hal tersebut terlihat dari aktualisasi kompetensi guru dalam merealisasikan tugas profesinya.
Sehubungan dengan kinerjanya maka guru ada yang memiliki kinerja baik dan ada juga yang memiliki kinerja kurang baik. Guru yang memiliki kinerja yang baik disebut guru yang profesional (Supriadi, 1998 : 98).
Realitas di lapangan latar belakang ekonomi guru bisa menggaggu kepada kinerjanya, sehingga yang seharusnya dia kompeten dalam menyampaikan materi pembelajaran, tapi karena desakan ekonomi keluarga akhirnya konsentrasi bisa pudar, sehingga pembelajaran pun tidak bisa optimal. Seperti pad contoh guru harus mengajar pada pukul 07.00 tapi pada kenyataannya masuk 07.45,  mengapa bisa terjadi karena pada waktu tersebut guru masih di pasar misalnya, sedang mengangkut muatan barang ataupun alasan yang lainnya. Ini tidak bisa dipungkiri karena gaji yang didapat seorang guru belum mencapai kepada cukup, sementara kebutuhan sudah di depan mata.
 Tugas profesional guru menurut pasal 2 Undang-Undang No. 14 tahun 2005 meliputi :
  1. Melaksanakan pembelajaran yang bermutu serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran.
  2. Meningkatkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan dengan perkembangan ilmu pengetahuan.
  3. Menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan hukum dan kode etik guru serta nilai-nilai agama dan etika dan dapat memelihara, memupuk persatuan dan kesatuan bangsa.   
Kemampuan (ability), keterampilan (skill), dan motivasi (motivation) akan memberikan kontribusi positif terhadap kualitas kinerja personil apabila disertai dengan upaya (effort) yang dilakukan untuk mewujudkannya. Upaya yang dilakukan suatu organisasi akan berdampak positif terhadap peningkatan kualitas kinerja organisasi sehingga mendukung pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.
Guna mencapai kinerja yang maksimal terdapat kriteria kinerja, yang meliputi:
  1. Kemampuan intelektual berupa kualitas untuk berfikir logis, praktis dan menganalisis sesuai dengan konsep serta kemampuan dan mengungkapkan dirinya secara jelas.
  2. Ketegasan, merupakan kemampuan untuk menganalisa kemungkinan dan memiliki komitmen terhadap pilihan yang pasti secara tepat dan singkat.
  3. Semangat (antusiasme), berupa kapasitas untuk bekerja secara aktif dan takkenal lelah.
  4. Berorientasi pada hasil, merupakan keinginan intrinsik dan memiliki komitmen untuk mencapai suatu hasil dan menyelesaikan pekerjaannya.
  5. Kedewasaan sikap dan perilaku yang pantas, merupakan kemampuan dalam melakukan pengendalian emosi dan disiplin diri yang tinggi.
Didalam pelaksanaannya kinerja guru atau tenaga kependidikan dapat diukur dengan menggunakan lima aspek yang dapat dijadikan dimensi pengukuran yag disampaikan oleh Mitchell dikutip Mulyasa (2009 ; 138) yaitu :
1.    Quality of Work (kualitas kerja)
2.    Promtness (ketepatan waktu)
3.    Initiative (inisiatif)
4.    Capability (kemampuan)
5.    Communication (komunikasi

Pustaka.

Facebook Twitter Google+

Boleh bebas asal jangan terlalu

Back To Top