Jumat, 24 April 2015

Kehidupan Keagamaan Orang Tua terhadap dorongan anaknya

Yang dimaksud dengan kehidupan keagamaan orang tua disini adalah semua aktivitas dilakukan oleh orang tua, baik secara individu maupun secara kelompok Orang tua yang melaksanakan ajaran agama dengan baik, akan tumbuh dengan baik, akan tumbuh keagamaan yang dapat diserap oleh anakanaknya, yang selanjutnya akan berpengaruh pada sikap dan perilaku pribadi. Sehingga apabila orang tua yang mempunyai komitmen yang tinggi terhadap agama, otomatis mereka (orang tua) akan memperhatikan kehidupan keagamaan bagi anak-anaknya. Sehingga orang tua memilihkan sekolah atau lembaga pendidikan Islam. Sebab anak yang pada waktu kecil dibekali dengan ilmu agama, maka akan membekas pada waktu dewasa.
Begitu juga sebaliknya jika anak itu pada waktu kecil tidak dikenalkan ajaran-ajaran agama, maka pada waktu dewasa anak tersebut kurang memperhatikan ajaran agama. Hal ini seperti yang dikatakan Amir Daien Indrakusuma, bahwa: “Anak yang semasa kecilnya tidak tahu menahu dengan agama, tak pernah pergi bersama orang tua ke gereja atau masjid untuk mendengarkan khutbah dan sebagainya, maka setelah dewasa merekapun tidak ada perhatian terhadap agama.”  Dalam Al-Qur’an maupun hadits telah disebutkan bahwa manusia sejak lahirnya telah dibekali oleh Allah dengan fitrah beragama.

Seperti disebut dalam surat Ar-Rum ayat 30 yang berbunyi:
Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Di samping ayat di atas tersebut, juga disebutkan dalam hadits Nabi yang berbunyi:
Tidak ada anak yang dilahirkan itu kecuali membawa fitrah (kecenderungan untuk percaya kepada Alah), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan anak tersebut beragama Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi.

Dari ayat dan hadits di atas tersebut, jelaslah bahwa pada dasarnya anak itu telah membawa fithroh 
beragama dan kemudian tergantung pada pendidikan selanjutnya, kalau mereka mendapatkan pendidikan agama dengan baik, maka mereka akan menjadi orang yang taat beragama pula.
Tetapi sebaliknya bilamana benih agama itu tidak dipupuk dan dibina dengan baik, maka anak akan menjadi orang yang tidak beragama ataupun jauh dari agama.  Dengan demikian orang tua terdorong untuk menyekolahkan anaknya ke madrasah untuk mencerminkan komitmen yang sangat kuat. 
Seperti yang tercantum dalam surat At-Taubah:122

Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.
Dari ayat diatas bahwa komitmen orang tua terhadap agama anakanaknya. Anak yang besar dalam lingkungan agamis cenderung mempunyai sikap dan tanggung jawab yang lebih besar terhadap kehidupan keagamaan. Jika dibanding dengan anak yang dibesarkan dalam keluarga yang bersifat acuh tak acuh terhadap agama.
 
Dengan hubungannya dengan motivasi untuk menyekolahkan anaknya pada madrasah tsanawiyah dapat dikatakan bahwa orang tua yang mempunyai rasa komitmen yang tinggi terhadap agama cenderung untuk memasukkan anaknya ke lembaga pendidikan Islam dalam hal ini Madrasah.

Pustaka.
Muhammad Nur, Muhtarul Hadits (Surabaya: Bina Ilmu, 1987), 
H. Zuhirini, Metodik Khusus Pendidikan Agama (Surabaya: Usaha Nasional, 2004), 
A. Malik Fadjar, Holistika Pemikiran Pendidikan (Jakarta: Rajagrafindo, 2005), 
Amir Daien Indrakusuma, Pengantar Ilmu Pendidikan (Surabaya: Usaha Nasional 1973),
Facebook Twitter Google+

Boleh bebas asal jangan terlalu

Back To Top