Sabtu, 25 April 2015

Cita-Cita Orang Tua Terhadap Motivasi Pendidikan Anaknya

Cita-cita bagi seseorang adalah keinginan yang perlu diwajudkan dalam bentuk tindakan sehingga cita-cita orang tua terhadap pendidikan anaknya adalah merupakan persepsi dimana mereka hendak menyekolahkan anaknya, akan tetapi dengan menyekolahkan anaknya ke sekolah bukan berarti orang tua lepas dari tanggung jawab pendidikannya, dan menyerahkan cita-cita anaknya kepada sekolah yang bersangkutan.
Sebagaimana yang dinyatakan oleh Suharsimi Arikunto: “dengan menyerahkan ke sekolah ini berarti orang tua dapat lepas pemikiran dan menyerahkan cita-citanya kepada guru-guru. Orang tua masih juga menentukan cita-cita bagi anaknya. ”

Orang tua yang bercita-cita anaknya menjadi dokter, tentu berbeda dengan orang tua yang menginginkan anaknya menjadi guru, dan akan berbeda pula dengan orang tua yang berkeinginan anaknya untuk dapat mengolah perusahaan yang ia miliki. Dengan demikian perbedaan cita-cita orang tua yang satu dengan yang lain akan menghasilkan perbedaan pula dalam memasukkan anaknya ke sekolah.

Dalam hubungan dengan motivasi orang tua untuk menyekolahkan anaknya ke madrasah tsanawiyah, dapat penulis kemukakan bahwa orang tua yang mempunyai cita-cita agar anaknya mempunyai bekal keagamaan yang kuat, anak yang sholih dan sholihah, maka ia memilihkan lembaga sekolah yang bisa memenuhi harapannya tersebut, salah satunya adalah madrasah tsanawiyah, aliyah, pondok pesantren, dan perguruan tinggi Islam, sebab lembaga ini memberikan pelajaran agama lebih banyak disamping pendidikan umum.
Adapun faktor yang kedua yaitu faktor ekstrinsik. Yang dimaksud faktor eksrinsik adalah motivasi yang berfungsinya karena adanya perangsang dari luar. Dalam hal ini orang tua menyekolahkan anaknya ke Madrasah Tsanawiyah termotivasi bukan berasal dari diri orang tua sendiri melainkan dari kualitas lembaga pendidikannya (sekolah).

Pustaka.
Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara. 1990),
Facebook Twitter Google+

Boleh bebas asal jangan terlalu

Back To Top